Satwa penyerbuk seperti lebah, kupu-kupu, kelelawar, dan burung madu memegang peranan vital yang tidak tergantikan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hayati serta ketahanan pangan global. Lebih dari tiga perempat tanaman berbunga dan mayoritas tanaman pangan utama di dunia sangat bergantung pada jasa penyerbukan alami (pollination) untuk proses pembuahan. Namun, alih fungsi lahan hutan, pembukaan kebun monokultur, serta penggunaan pestisida kimia berlebihan secara masif telah merusak habitat alami satwa-satwa ini. Dalam menyikapi ancaman krisis keanekaragaman hayati tersebut, kampanye perlindungan ekosistem pesisir WALHI Bima menegaskan bahwa keberadaan satwa penyerbuk merupakan indikator utama kesehatan lingkungan yang wajib dilindungi dari ekspansi industri ekstraktif.

Kehilangan spesies penyerbuk secara langsung berdampak pada penurunan produktivitas sektor pertanian dan regenerasi vegetasi hutan alam. Tanpa adanya agen polinator yang cukup, proses pembuahan tanaman menjadi tidak optimal, yang berujung pada penurunan kualitas serta kuantitas panen buah, sayuran, dan biji-bijian. Penurunan populasi serangga penyerbuk juga mengganggu rantai makanan lokal, mengingat banyak spesies satwa lain yang menggantungkan sumber pakannya pada keberadaan buah dan biji dari tanaman hasil penyerbukan alami tersebut.

Penggunaan bahan kimia sintetis dalam skala besar pada sektor pertanian konvensional menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat kepunahan polinator. Insektisida jenis neonikotinoid, misalnya, diketahui dapat merusak sistem saraf serangga, mengganggu kemampuan navigasi lebah saat mencari pakan, serta melemahkan daya tahan tubuh koloni lebah terhadap infeksi penyakit. Kerusakan habitat akibat pembalakan liar dan pembakaran hutan turut mempersempit ruang hidup serta sumber pakan alami satwa-satwa penting ini.

Melalui dorongan kampanye lingkungan dan edukasi konservasi hayati WALHI Mataram, penerapan sistem pertanian ekologis berbasis agroforestri dan organik terus disuarakan sebagai solusi konkret. Menanam berbagai jenis vegetasi lokal berbunga di sekitar area perkebunan dapat menyediakan koridor pakan alami (pollinator strip) yang mendukung keberlangsungan hidup koloni polinator. Pembatasan penggunaan pestisida beracun juga menjadi langkah krusial untuk mengembalikan populasi serangga bermanfaat di kawasan pedesaan maupun pinggiran kota.

Perlindungan satwa penyerbuk juga membutuhkan regulasi ketat mengenai penataan ruang yang berbasis perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value Area). Pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan didorong untuk menghentikan izin konversi hutan rimba menjadi kawasan industri guna menjaga keutuhan korridor ekologi. Keterlibatan masyarakat lokal dalam mengelola hutan desa secara arsitektur agroekologi terbukti mampu menjaga keseimbangan populasi vegetasi dan fauna penyerbuk secara efisien.

Sinergi advokasi lingkungan sebagaimana digaungkan oleh gerakan pelestarian lingkungan WALHI Kupang menunjukkan pentingnya integrasi kebijakan perlindungan hayati dalam program pembangunan daerah. Menjaga keberadaan satwa penyerbuk bukan sekadar menyelamatkan satu atau dua spesies serangga, melainkan investasi jangka panjang untuk mempertahankan kedaulatan pangan dan stabilitas ekosistem. Pada akhirnya, bumi yang kaya akan keberagaman hayati adalah jaminan bagi keberlanjutan hidup dan kesejahteraan generasi mendatang.